0

Cause that’s what’s friends are supposed to do, oh, yeah..

“Shinobi yang melanggar aturan disebut sampah, tapi shinobi yang tidak menghargai temannya lebih rendah dari sampah”

Setelah terlalu banyak membaca komik manga Jepang yang lumayan terkenal berjudul “Naruto”, aku mulai memahami bagaimana seharusnya menjadi teman yang baik. Entah mengapa, walau dalam Naruto lebih banyak bercerita tentang kehidupan ninja, Masashi Kishimoto, si pembuat Naruto, sering membubuhi cerita yang selalu berbau pertemanan dan kesetiaan. Dari situ, aku mulai terinspirasi untuk selalu menghargai temanku.

Bukan berarti sebelumnya aku tidak menghargai temanku. Dulu, aku menganggap teman hanya sebatas sebagai partner dalam belajar atau mengisi waktu. Aku memang mempunyai teman yang bisa disebut sahabat, yang kuketahui tentang kata “sahabat” hanyalah “teman dekat”. Sebatas itu.

Saat membaca Naruto, aku selalu teringat kepada seorang teman yang sifatnya mirip seperti yang digambarkan oleh Masashi Kishimoto. Dia terlihat peduli, dan sangat menyayangi temannya. Itu membuatnya memperoleh banyak teman. Tapi banyak sedikitnya teman tak terlalu menjadi sumber kebahagiaannya (maksudku bukan untuk meningkatkan popularitas anak SMA). Yang membuatnya bahagia adalah rasa nyaman saat dia sadar bahwa ada orang yang dekat dan akan selalu peduli kepadanya yang disebut teman.

Dalam kamus sosiologi, teman adalah media sosialisasi. Dalam kamus Bahasa Indonesia, teman adalah seseorang yang kamu kenal. Dalam kamusku, teman adalah seseorang yang dapat memberikan rasa nyaman ketika dia berada di dekatku.

Sedangkan sahabat? sahabat adalah teman yang cukup gila untuk menerimaku sepenuhnya tanpa memusingkan segala kekuranganku.

Sekali lagi,

“Teman adalah satu jiwa dalam tubuh yang berbeda” Aristoteles

Image

Image

Advertisements