0

A wonderful story of Little Busters

 

Kesepuluh anggota Little Busters

Kesepuluh anggota Little Busters

 

Perusahaan pembuat : Key

Jumlah Episode : Little Busters! (26 episode), Little Busters! Refrain (13 episode), Little Busters! EX (8 episode)

Soundtrack : “Little Busters!”  (OP Little Busters!), “Alicemagic” (ED Little Busters!), “Boys Be Smile” (OP Littl Busters! Refrain)

Awalnya, Little Busters! merupakan sebuah visual-novel yang dibuat oleh Key. visual-novel adalah aplikasi yang memungkinkan kita untuk memerankan tokoh utama dalam suatu cerita, dan mengikuti jalan cerita tersebut dalam bentuk gambar, dialog, serta mini games. Setelah itu, dirilislah anime yang mengangkat cerita serupa dengan judul Little Busters! Continue reading

Advertisements
0

Cause that’s what’s friends are supposed to do, oh, yeah..

“Shinobi yang melanggar aturan disebut sampah, tapi shinobi yang tidak menghargai temannya lebih rendah dari sampah”

Setelah terlalu banyak membaca komik manga Jepang yang lumayan terkenal berjudul “Naruto”, aku mulai memahami bagaimana seharusnya menjadi teman yang baik. Entah mengapa, walau dalam Naruto lebih banyak bercerita tentang kehidupan ninja, Masashi Kishimoto, si pembuat Naruto, sering membubuhi cerita yang selalu berbau pertemanan dan kesetiaan. Dari situ, aku mulai terinspirasi untuk selalu menghargai temanku.

Bukan berarti sebelumnya aku tidak menghargai temanku. Dulu, aku menganggap teman hanya sebatas sebagai partner dalam belajar atau mengisi waktu. Aku memang mempunyai teman yang bisa disebut sahabat, yang kuketahui tentang kata “sahabat” hanyalah “teman dekat”. Sebatas itu.

Saat membaca Naruto, aku selalu teringat kepada seorang teman yang sifatnya mirip seperti yang digambarkan oleh Masashi Kishimoto. Dia terlihat peduli, dan sangat menyayangi temannya. Itu membuatnya memperoleh banyak teman. Tapi banyak sedikitnya teman tak terlalu menjadi sumber kebahagiaannya (maksudku bukan untuk meningkatkan popularitas anak SMA). Yang membuatnya bahagia adalah rasa nyaman saat dia sadar bahwa ada orang yang dekat dan akan selalu peduli kepadanya yang disebut teman.

Dalam kamus sosiologi, teman adalah media sosialisasi. Dalam kamus Bahasa Indonesia, teman adalah seseorang yang kamu kenal. Dalam kamusku, teman adalah seseorang yang dapat memberikan rasa nyaman ketika dia berada di dekatku.

Sedangkan sahabat? sahabat adalah teman yang cukup gila untuk menerimaku sepenuhnya tanpa memusingkan segala kekuranganku.

Sekali lagi,

“Teman adalah satu jiwa dalam tubuh yang berbeda” Aristoteles

Image

Image

0

“The Art of Friendship”? Don’t worry, it’s natural!

Aku tahu kamu sebenarnya sudah nggak suka sama aku. Kamu selalu membela Dia daripada aku! Bilang aja, deh, kalau kamu memang nggak suka aku. Maaf sudah merepotkanmu selama ini” aku terbangun dengan napas terengah-engah. Masih terbayang raut wajah sahabatku atau lebih tepatnya “mantan” sahabatkuyang marah bercampur kecewa dibubuhi oleh sedih. Rasa bersalah menghantam layaknya sebuah batu besar menghujam dada yang terbuat dari tulang rapuh ini.

Sifat orang memang beda-beda. Ada yang menyikapi pertengkaran sesama sahabat dengan sedih berkepanjangan, ada juga yang menganut sistem “end, and start browsing for the new one”, atau tidak jarang pula yang membiarkannya karena ia yakin bahwa cepat atau lambat, perdamaian akan kembali terbentuk.

Memang tidak enak bila kita harus melakukan perang dingin sesama sahabat, terutama bila mengetahui kenyataan bahwa kitalah yang telah melakukan kesalahan. Rasa bersalah akan menghantam kita, bahkan membuat kita kehilangan selera hidup. Aku saja pernah tidak bisa tidur selama dua hari karena telah beradu mulut dan ujung-ujungnya melaukan “upacara” saling mendiami. Walaupun kita tahu bahwa kita bersalah, terkadang kita malu untuk mengucap kata “maaf” kepada teman. Kita pasti akan sangat mengharapkan sapaan hangat sebagai permulaan untuk awal yang baru dari sahabat yang telah kita sakiti. Yah, itu biasa.

Masalah akan semakin panjang bila penantian kita itu sia-sia. Sahabat kita itu tidak kunjung mencairkan es dingin yang menghalangi hubungan kita dengannya. Ada beberapa kemungkinan. Yang pertama, sahabat kita itu juga menunggu seperti kita, atau kesalahan kita itu membutuhkan waktu lama untuk dimaafkan. Jika terjadi hal seperti itu, mulailah untuk menyapanya. Itu akan menghangatkan suasana, dan akan berlanjut sehingga hubuanga baik dengan sahabat akan kembali. Atau, bila si sahabat tetap bersikap dingin, itu artinya kamu memang membuat kesalahan yang membuatnya gusar. Cobalah untuk menemuinya secara pribadi dan berkata, “Aku tahu aku salah waktu itu. Maafin aku, dong.. Aku sedih kalau nggak ngomong sama kamu seharian”. Awalnya, jika sahabatmu itu adalah tipe orang yang mudah gengsi, dia akan pura-pura tidak menghiraukan, namun sebenarnya ia menangkap setiap kata yang kamu ucapkan. Goda saja dia, seperti berpura-pura menangis, atau mengajaknya untuk pergi ke suatu tempat berdua, itu akan membuatnya lebih nyaman dan persahabatan pun bersemi kembali.

Satu poin penting adalah, percayalah pada sahabatmu bahwa ketika kalian bertengkar, cepat atau lambat, ia akan kembali karena dia tidak akan menemukan sahabat sebaik kamu. Tanamankan itu di pikiranmu, karena dasar untuk menjaga persahabatan adalah dengan saling mempercayai bukan?

Friend is a single soul in two bodies

-Aristotle-Image